|
HIMBAUAN MILAD 81 TAHUN NASYIATUL AISYIYAH (28 Dzulhijjah 1349 H - 28 Dzulhijjah 1430 H) Berikut disampaikan Himbauan Milad 81 Nasyiatul Aisyiyah dari Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah.
HIMBAUAN MILAD 81 TAHUN NASYIATUL AISYIYAH (28 Dzulhijjah 1349 H - 28 Dzulhijjah 1430 H) Dirgahayu 81 Tahun Nasyiatul Aisyiyah I. Muqaddimah Nasyiatul Aisyiyah yang berdiri pada tanggal 28 Dzulhijjah 1349 H bertepatan dengan 16 Mei 1931 M kini telah berusia 81 tahun, usia yang matang bagi suatu organisasi. Sejak kelahirannya hingga saat ini Nasyiatul Aisyiyah tetap konsisten sebagai organisasi kader dan gerakan putri Islam yang bergerak di bidang keagamaan dan kemasyarakatan, khususnya bergerak pada bidang keperempuanan dan anak. Namun demikian napak tilas pergerakan organisasi yang kita cintai ini, pada upaya penyadaran, pembelaan dan pemberdayaan perempuan dan anak selama 81 tahun ini perlu kembali kita evaluasi, sejauh mana peran Nasyiatul Aisyiyah sebagai salah satu komponen bangsa mampu eksis dan turut ambil bagian dalam upaya mewujudkan cita-cita luhur bangsa yakni masyarakat sejahtera, adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Kondisi negara yang mengalami krisis multi dimensi seperti keadilan ekonomi, penegakan hukum, kepemimpinan nasional yang handal, politik yang semakin tidak sehat, menjadi “pekerjaan rumah” yang harus ditangani oleh Pemerintah sebagai pelaksana pemerintahan. Namun sayangnya, akhir-akhir ini para pemegang kekuasaan kita semakin dipertanyakan niatannya karena banyaknya penyelewengan (skandal) yang terjadi. Problematika bangsa pada akhirnya menempatkan perempuan sebagai pihak yang menanggung beban terberat dalam keluarganya. Isu-isu sentral perempuan seperti pendidikan, kesehatan reproduksi, kerja domestik, upah rendah, peran ganda, dan kekerasan seksual saling berimpitan dalam krisis poitik ekonomi, hukum, kesehatan dan sosial budaya. Hal ini terlihat nyata dalam alur hidup sebagian besar perempuan Indonesia saat ini. Perempuan yang berpendidikan rendah berusaha menghidupi keluarganya dengan bekerja di luar negeri, menjadi korban penipuan, korban kekerasan fisik, psikologis, verbal, dan seksual, pulang kembali kepada keluarganya dalam keadaan cacat fisik, menggendong anak yang bukan anak suaminya, bahkan tak sedikit pula yang pulang tinggal nama. Atau perempuan bekerja mengurus rumah tangga dan anak orang lain, sementara rumah tangga dan anaknya sendiri terabaikan. Di sisi lainnya, perempuan berpendidikan tinggi bekerja untuk aktualisasi diri, meringankan beban nafkah suami, pulang ke rumahnya berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Ilustrasi tersebut mencerminkan bahwa sebagai apapun, perempuan selalu dituntut mempunyai tanggungjawab yang tinggi terhadap kehidupan dan keberlangsungan keluarga. Tingginya tuntutan ini terkadang membawa perempuan sampai ke titik frustasi. Sebagian kecil perempuan mulai “ragu” menjalani fitrahnya melahirkan generasi baru atau memilih tidak menikah. Sebagian besar menikah, tetapi hidup dengan dibayang-bayangi oleh kekhawatiran akan suramnya masa depan anak-anak mereka: susu mahal, pendidikan mahal, cari kerja susah, harga kebutuhan pokok mahal, sehingga beberapa diantaranya gelap mata mengakhiri hidupnya dan juga anak-anaknya. Dalam konteks-konteks ini, perempuan sesungguhnya menjadi korban dari sistem-sistem di sekelilingnya, negara dan masyarakat, yang belum mampu memberikan perlindungan maksimal kepada warganya yang mudah rentan. Padahal Negara dan Pemerintah sebagai pelaksana kekuasaan tertinggi berkewajiban untuk menciptakan kesejahteraan rakyatnya seperti yang tertuang dalam amanat pembukaan UUD 1945. Jika kondisi perempuan dan keluarga seperti di atas, maka pilar utama peradaban manusia, yang adalah keluarga, pun tak kan mempunyai masa depan. Karena kepeduliannya terhadap keberlangsungan kehidupan perempuan dan keluarga, maka Nasyiatul Aisyiyah, sebagai organisasi dan gerakan putri Islam, pada miladnya yang ke-81 ini mengusung tema “PEREMPUAN : MASA DEPAN ATAU AKHIR PERADABAN??”. Tema tersebut sebagai ruang refleksi (bertafakkur) akan eksistensi “Citra Perempuan” sebagai identitas suatu peradaban pada masanya. Dalam Islam juga dikenal kata-kata bijak seperti “Surga Di Telapak Kaki Ibu”, “Jika Perempuan Baik Maka Baik Pulalah Negara”, atau “Perempuan Di Tangan Kanan Menghunus Pedang, Di Tangan Kiri Menggendong Bayi”. Jika dihadapkan pada realitas sosial yang sekarang ini hadir di hadapan kita, muncul pertanyaan besar tentang perempuan dan peradaban, benarkah kata-kata tersebut? Atau hanya sekedar jargon belaka? Dimanakah letak perempuan? apakah perempuan menjadi masa depan atau akhir bagi peradaban?. Tema dan pertanyaan ini menuntut jawaban semua komponen bangsa bukan hanya perempuan namun juga laki-laki. Karena peran vital perempuan dalam membentuk peradaban tidak terlepas dari pengaruh budaya dan sosok laki-laki di sekelilingnya. Maka sesungguhnya hancurnya peradaban manusia tidak bisa dijatuhkan kesalahannya semata-mata kepada perempuan, sebaliknya masa depan peradaban yang lebih baik dapat diwujudkan dengan kerjasama yang adil dan setara antara laki-laki dan perempuan, baik di ranah domestik keluarga maupun di ruang publik. Sebagaimana telah ditorehkan oleh tinta emas sejarah. Milad Ke 81 tahun ini beriringan dengan berbagai moment yang berkaitan langsung dengan perempuan yaitu Hari Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan, Hari AIDS / HIV, Tahun Baru Hijriyah dan Hari Ibu. Tentunya hal ini akan menambah makna gerakan yang akan kita lakukan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya perempuan. Untuk itulah rangkaian Milad Ke 81 tahun ini disertai dengan gerakan-gerakan yang berkaitan dengan moment-moment tersebut di atas. Semoga segala amal usaha kita diridhai oleh Allah SWT…amin II. Tema Tema peringatan Milad Nasyiatul Aisyiyah ke-81 “ PEREMPUAN : MASA DEPAN ATAU AKHIR PERADABAN??”. III. Tujuan 1. Meningkatkan dan mengevaluasi peran Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi yang konsisten untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan sebagai komponen pencerahan peradaban 2. Mengajak keluarga besar Nasyiatul Aisyiyah dari tingkat pusat hingga ranting untuk semakin merapatkan dan memperteguh barisan, memperbanyak kader dan meningkatkan kualitas baik secara personal maupun kelembagaan. IV. Kegiatan Diharapkan setiap tingkatan pimpinan PW, PD, PC dan PR Nasyiatul Aisyiyah mengadakan kegiatan yang mewarnai dan menjiwai setiap rangkaian kegiatan Milad yang diselenggarakan pada setiap tingkatan dengan kegiatan, seperti: a. Renungan Milad b. Pengajian akbar c. Pentas seni, lomba d. Diskusi, talkshow, sarasehan, e. Aksi/bakti sosial f. Wisata dakwah g. Kajian, seminar dengan topik aktual h. Pelatihan i. Lomba j. Membuat spanduk dan berbagai kegiatan kreatif dan inovatif lainnya yang menunjang tema Milad. V. Syiar dan Publikasi Syiar Milad dapat dilakukan dengan cara 1. Mempublikasikan kegiatan melalui media massa 2. Memasang atribut-atribut Nasyiatul Aisyiyah / Milad berupa umbul-umbul dan bendera, Baliho, Spanduk, dsb. Dengan tema dan kalimat-kalimat himbauan/slogan Nasyiah anti kekerasan terhadap perempuan, juga slogan pembelaan Nasyiah terhadap nasib perempuan. Contoh Spanduk: 81 Tahun Nasyiah: “Kekerasan Bukan Solusi, Unjuk Diri dengan Prestasi, Mari Berkarya untuk Sesama” 3. Desain/variasi spanduk diserahkan kepada kreatifitas masing-masing wilayah/Daerah/Cabang dan Ranting dengan tetap mencantumkan identitas Nasyiatul Aisyiyah dan Milad. 4. Melakukan kegiatan aksi langsung di tengah masyarakat dalam berbagai bentuk seperti penyebaran informasi tentang Nasyiatul Aisyiyah di area publik dsb. VI. Sifat Peringatan Peringatan Milad diselenggerakan secara tertib, khidmat, sederhana tapi tetap menampakkan syiar VII. Waktu Kegiatan Milad diselenggarakan mulai tanggal 28 Dzulhijjah 1430 H sampai dengan 28 Muharram 1431 H. Bertepatan dengan 15 Desember 2009 sampai dengan 15 Januari 2010 VIII. Pembiayaan Biaya Milad diusahakan dari warga Nasyiatul Aisyiyah sendiri atau dari amal usaha yang membantu. IX. Pelaporan Seusai penyelenggaraan kegiatan milad hendaknya disusun laporan dengan sistematika sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan Bab II : Kegiatan yang diselenggarakan Bab III : Masalah yang dihadapi Bab IV : Faktor Penunjang dan Penghambat Bab V : Kesimpulan, usul dan saran. Bab VI : Penutup Laporan hendaknya disampaikan : a. PR/PC Nasyiatul Aisyiyah ke Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah b. PD. Nasyiatul Aisyiyah menghimpun laporan PC. Nasyiatul Aisyiyah dan melaporkan ke PW. Nasyiatul Aisyiyah c. PW. Nasyiatul Aisyiyah dengan menghimpun laporan PD. Nasyiatul Aisyiyah melaporkan ke PP. Nasyiatul Aisyiyah. Yogyakarta, 05, Desember 2009 Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah. Ketua Umum Sekretaris Umum dto dto Abidah Muflihati Widi Maryati |