Agenda Nasyiah

No events
Menggali Potensi Budaya Lokal untuk Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ditulis Oleh Sri Lestari Linawati, S.S.   
Selasa, 11 Mei 2010
Pada Seminar Sehari tentang Metode Pembelajaran Yang Efektif Pada Pendidikan Anak Usia Dini di Ruang Sidang Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, 5 Desember 2005, ditampilkan 4 metode, diantaranya: 1. Metode Montessori dari Italia, 2. Tumble Tots (stimulasi psikomotorik) dari Inggris, 3. BCCT (Beyond Centre and Circle Time) dari Florida USA, dan 4. Pendekatan Alam.

Pendekatan terakhir, yang murni dari Indonesia ini menarik untuk dikaji lebih jauh karena pendekatan ini lebih menekankan pemahaman dan apresiasi terhadap kebudayaan setempat atau budaya lokal. Bagaimana nuansa budaya lokal ini mengkristal dalam penyelenggaraan dan proses belajar-mengajar dalam Pendidikan Anak Usia Dini? Bagaimana masyarakat turut terlibat dan berpatisipasi aktif dalam mencapai tujuan pembelajaran? Bagaimana budaya lokal mewujud dalam denyut nadi lembaga PAUD dan bagaimana itu mampu merembes dalam PAUD di masyarakat?  Kita ikuti paparan berikut.

Budaya Lokal dan Pembelajaran

Beberapa anak laki-laki dan perempuan usia 2 – 4 tahun menyaksikan Mbah Harto yang sedang membajak sawah. Perlahan namun pasti, dua ekor sapi yang gemuk dan sehat  berjalan mengelilingi sepetak tanah yang hendak ditanami padi. Tanah dibalik sebagian demi sebagian agar subur dan menghasilkan panen yang banyak.

Saat mentari sedikit naik, Mbah Harto istirahat sejenak, melepas lelah, lapar dan dahaga. Mbah Harto memandang ke sekeliling sawah. Masih kurang beberapa jengkal lagi untuk dibajak. Kedua ekor sapi yang masih terikat di bajak, sesekali menggerakkan telinganya dan mengangkat kakinya, sekedar mengusir serangga yang hinggap di tubuhnya.

Lalu datanglah sekelompok anak berusia 4 – 6 tahun. Mereka berlarian menyusuri pematang sawah. Turun naik dari petak satu ke petak lainnya. Seorang anak bermain gundukan tanah. Anak lainnya mengumpulkan dedaunan kering. Sebagian lainnya menangkap capung dan belalang. Sesaat kemudian nampak mereka kembali berkelompok. Mereka berbincang-bincang soal hasil perburuan masing-masing. Bergantian bicara. Diskusi. Perbincangan seru. Mereka tertawa lalu memanggil adik-adik Kelompok Bermain. Mereka bersuka-ria bersama. Riuh tawa lepas dari mulut-mulut mungil. Lucu.

Bu Guru TK, Guru KB B dan Guru KB A berkumpul. Anak-anak duduk melingkar, memperhatikan aba-aba bu guru. Guru menanyakan kegiatan mereka satu per satu. Dengan semangat dan antusias mereka bercerita dan menjawab setiap pertanyaan guru. Kata demi kata meluncur bebas dari mulut bocah-bocah mungil itu. Mereka menjawab begitu saja, padahal itu adalah pekerjaan besar. Kita tidak tahu bahwa itu adalah recalling, sebuah proses atau pijakan akhir dari sebuah permainan, diperlukan dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebelum pulang, anak-anak berpamitan dengan Mbah Harto dan menjabat tangannya. Akrab. Hangat. Bila begini yang terjadi, siapakah guru sejati dalam Pendidikan Anak Usia Dini? Siapakah pengasuh sesungguhnya dalam Pendidikan Anak Usia Dini?

Berbeda kesibukan dan kegiatan di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak, berbeda pula pendampingan dan kegiatan yang dilakukan oleh guru di kelas Baby Care (3 bulan – 2 tahun). Lima anak yang berusia sekitar 18 bulan mengajak Bu Guru melihat kambing di rumah Pak De Warto. Ketika Bu Guru tengah menyiapkan bekal makan dan minum mereka, mereka sudah berlari menuju kandang kambing. Bu Guru pun berlari menyusul, khawatir terjadi apa-apa. Ternyata yang terjadi sungguh di luar dugaan. Mereka bahkan tumbuh lebih cepat dari apa yang diperkirakan oleh Guru. Anak-anak ’bayi’ itu sudah langsung bersalaman dengan Mbok De Surat, istri Pak De Warto, yang berdiri dekat kronjot dagangannya. Dia pedagang sayur keliling, baru pulang dari berdagang.

Anak-anak ’bayi’ itu menuju kandang kambing dan menirukan suaranya, ”.......mbeek......mbeek.....”. ”O ya, itu kam.....”, tanya Bu Guru. Anak-anak spontan menjawab,”biiing...”. Anak-anak berlari lagi menuju kronjot Mbok De Surat dan berjinjit-jinjit untuk mengetahui isinya. Mbok De Surat yang faham keinginan anak-anak, langsung membagikan jenang grendul, jeli dan nogosari pada mereka. Anak-anak senang. Memegangi jajanannya, menganggukkan kepala dan mengucap ”....aciiiiiiih....” berterima kasih kepada Mbok De Surat. Betapa para ’bayi’ itu tahu dan bisa berterima kasih, sekalipun kata-katanya belum jelas.
    Anak-anak ’bayi’ itu menikmati makanannya. Yanas dan Ken memandang lagi pada Mbok De Surat dengan telunjuk tangan kanannya menunjuk pada kambing ,”mbeek.........”. Mbok De mengangguk, ”Oh iya, kambingnya baru makan. Ada berapa kambingnya, Dik?” Anak-anak pun tersenyum dan berkata riang, ”....Ambing.....!”


Budaya Lokal

Budaya lokal yaitu tata cara hidup, adat istiadat, kebiasaan, tradisi, seni,pemikiran, sistem nilai, cara kerja yang khas suatu masyarakat atau daerah tertentu (Y.L. Subiyanto, 2003). Lebih lanjut Subiyanto menguraikan tentang nilai-nilai kearifan budaya lokal yaitu:
a.    Sosialitas yang memancar dalam bentuk-bentuk kehidupan bersama dan keterbukaan kreatif,
b.    Kecerdasan emosional dan spiritual yang memancar dalam berbagai bentuk askese,
c.    Simbolik, subtil, etis, estetis, indirect untuk mengatasi benturan-benturan,
d.    Terbedakan antara nilai dan cara/ bentuk perwujudan.

Fenomena di masyarakat sekarang menunjukkan pernikahan yang merupakan lintas budaya dan lingkungan hidup yang baru merupakan suatu lingkungan yang baru pula Dengan demikian seorang anak yang dilahirkan diharapkan mampu memahami setidaknya tiga lingkungan budaya, yaitu budaya asal ayah, budaya asal ibu, dan budaya tempat tinggal ayah ibu kini.

Di lain pihak, setiap budaya memiliki sudut pandang dan cara memperlakukan anak yang berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan karakter, tata kehidupan masyarakat dan struktur sosial ekonomi masyarakat. Padahal sistem ekonomi makro kebangsaan sangat sarat oleh nuansa dan intrik-intrik politik, sehingga persoalan PAUD menjadi sesuatu yang kian jauh dari jangkauan masyarakat awam.

Bekerja, bagi seorang ibu, karena himpitan ekonomi,  merupakan hal yang tak terelakkan lagi. Adapun anak-anak yang masih sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang, menjadi persoalan yang dikesampingkan. Secara riil anak-anak dari Ibu Bekerja mengalami persoalan-persoalan: susah makan, susah minum, susah tidur, sedangkan nenek/ kakek mereka juga bekerja. Bila begini persoalannya, siapakah yang akan menjadi tumpuan harapan bagi anak-anak?

Sekolah, Pendidikan dan Perawatan. Pendidikan pra sekolah di lingkungan perkotaan kian dibutuhkan kehadirannya, baik untuk stimulasi tumbuh kembang anak maupun untuk sekedar penitipan. Tulisan ini tidak berpretensi untuk mengupas mana yang benar: penitipan ataukah pendidikan, musti dimulai dari pemerintah ataukah merubah dulu paradigma masyarakat terhadap PAUD. Yang jelas adalah bahwa setiap lembaga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan layanan yang terbaik kepada setiap konsumennya dan selalu mengevaluasi nilai layak terap dan terujinya di lapangan.

PAUD dan Budaya Lokal

Guru
a.    diambil dari unsur masyarakat sekitar yang peduli Anak Usia Dini, memiliki minat belajar yang tinggi,
b.    adalah  bagian tak terpisahkan dari tata kehidupan bermasyarakat. Karenanya, selain sebagai pendidik di lembaga PAUD, juga harus mampu mengapresiasi tata nilai yang berlaku di masyarakat setempat dan menjunjung tinggi moral,
c.     berperan sebagai pendidik (yang harus menyiapkan materi hingga evaluasi), dan tidak pula riskan dan canggung berperan sebagai pengasuh (dengan tugas-tugas perawatan),
d.    Peran ganda sebagai pendidik dan pengasuh dilakukan sebagai upaya memahami peran Surrogate Mother (Ibu Pendamping). Selain mendidik anak-anak, proses pembelajaran juga diharapkan dapat mencerdaskan guru, baik yang belum menikah, lebih-lebih bagi yang sudah memiliki anak.

Layanan PAUD
Layanan dalam lembaga PAUD meliputi semua yang tercantum dalam kurikulum PAUD dan memenuhi SPM (Standart Pelayanan Minimal). Pendekatan budaya juga mengajarkan untuk membantu ’bot repoting’ ibu bekerja, segala kesulitan yang dihadapi oleh ibu bekerja, seperti makan pagi, potong kuku tangan dan kaki, potong rambut. Guru adalah sosok yang diharapkan mampu memahami kebutuhan anak sesuai tingkat perkembangan anak, dan memiliki kemampuan komunikasi dengan orang tua tentang perkembangan anak.
Filosofi
-    Filosofi yang dianut dalam pendekatan alam adalah pendidikan yang memandang bahwa anak adalah bagian dari kebudayaan,
-    Berdasarkan filosofi tersebut, maka metode dan praktek pendidikan yang diterapkan berdasarkan observasi terhadap anak kaitannya dengan simbol-simbol kebudayaan.
Anak dan Kebudayaan
•    memiliki potensi masing-masing,
•    menyerap nilai-nilai kebudayaan yang dihadapi,
•    mengaplikasi dan mengapresiasi nilai-nilai kebudayaan yang diterima,
•    menemukan bentuk-bentuk baru kebudayaan di antara berbagai nilai-nilai budaya yang ditemui.
Anak
Setiap anak adalah manusia yang unik. Mereka memiliki karakteristik dan potensinya masing-masing. Fokus proses pendidikan bagi mereka selalu didasarkan pada kebutuhan individual. Oleh sebab itu perlu dirumuskan kebutuhan individual setiap anak dalam konteks kebudayaan, sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang benar terhadap hakikat anak dan pencerahan peradaban.

Apa yang Harus Dilakukan?
1.    Stimulasi seluruh aspek tumbuh kembang anak (fisik, sosial, emosional, intelektual, spiritual),
2.    Observasi dan interpretasi untuk memahami kebutuhan anak,
3.    Upaya pendampingan agar anak menjadi mandiri,
4.    Kajian terhadap lingkungan budaya yang baru yang hendak dicapai oleh anak (studi lingkungan keluarga),
5.    Penyediaan lingkungan (lembaga dan masyarakat) yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Lingkungan
Lingkungan belajar yang kondusif akan membuat proses belajar pada anak menjadi optimal, yang meliputi lingkungan lembaga dan lingkungan masyarakat sekitar. Lingkungan lembaga sudah pasti didesain utuk memenuhi segala keperluan bermain dan belajar anak, sejak jam 07.00 hingga 16.00, yang meliputi Alat Permainan Edukatif maupun keamanan dan kenyamanan lokasi Sekolah. Adapun lingkungan masyarakat sekitar meliputi kebersihan lingkungan, kerapian, keindahan, keramahan dan keceriaan warga. Selain rasa menerima kehadiran lembaga PAUD, diharapkan masyarakat juga merasa memiliki, sehingga anak-anak terjaga keamanannya dan terlebih lagi adalah terjadinya interaksi antara anak-anak yang di Sekolah dengan anak-anak di masyarakat. Lembaga PAUD bukanlah sesuatu yang eksklusif, sebaliknya merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dalam denyut nadi perkembangan kehidupan kemasyarakatan.

Faktor-faktor Lingkungan:
-    bahan-bahan yang sesuai untuk menstimulasi semua aspek tumbuh kembang anak,
-    tata ruang belajar outdoor dan indoor,
-    ukuran bahan yang sesuai untuk anak,
-    sosialisasi wacana pentingnya PAUD dan pentingnya program PAUD di masyarakat pedusunan,
-    keterlibatan guru dalam mengentaskan PAUD di masyarakat dengan karakteristik yang melekat di dalamnya,
-    program terpadu bagi ibu dan anak dalam PAUD di Unit Posyandu,
-    keterlibatan lembaga PAUD dalam sosialisasi PAUD di tingkat Desa,
-    kepedulian kelembagaan PAUD terhadap kehidupan PAUD di tingkat Kecamatan.

Penutup
Seorang anak ibarat sebuah bunga. Bunga nan indah, harum dan wangi tidak saja tumbuh di lingkungan perkebunan bunga, yang kadangkala untuk menangkarnya saja diperlukan biaya yang mahal, namun ada baaa.....nyak bunga yang indah, elok dan wangi semerbak yang tumbuh di tengah-tengah hutan, di antara semak-belukar, ataupun di tepi-tepi pantai dan jalan raya. Kepedulian, kesungguhan, dan profesionalisme dari segenap warga bangsa terhadap PAUD yang akan mampu mengentaskan 72,64 % anak usia dini yang belum tersentuh oleh layanan PAUD jenis apapun. Wallahu a’lam.  


PENULIS
Sri Lestari Linawati, S.S.
- Pimpinan PAUD Berbasis Alam “BirruNA”, Kanoman, Gamping, Sleman
- Koordinator Divisi PAUD, PKBM Desa Banyuraden Gamping Sleman
- Sekretaris II Forum PAUD Provinsi DIY periode 2008 -2010
Telp. (HP) 081.328.318.160, 0856.292.8998,
Email: Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya

 
Selanjutnya >